A A G
Contact Us

Blattella germanica

Mengenal Blattella germanica

Kecoa adalah serangga yang termasuk dalam filum Arthropoda, yang hidup bebas. Blattella germanica merupakan salah satu jenis kecoa yang dapat menjadi vektor penyakit dan paling umum ditemukan di tempat tinggal. Selain itu, Blattella germanica dianggap sebagai pengganggu kesehatan karena kedekatannya dengan manusia dan umumnya berkembang biak dan mencari makan di daerah yang kotor. Kecoa mempunyai perilaku yaitu memuntahkan makanan yang sudah masuk ke dalam lambung. Sehingga dapat dengan mudah menularkan penyakit secara mekanis ke manusia dengan mencemari dan merusak makanan. Kecoa juga dapat memindahkan beberapa mikroorganisme pathogen antara lain Streptococcus, dan Salmonella. Sehingga kecoa dapat berperan menyebarkan penyakit disentri, diare, cholera, virus hepatitis A, dan polio pada anak-anak.

Taxonomi

Kingdom  : Animalia

Filum       : Arthropoda

Kelas        : Insekta

Ordo         : Blattodea

Famili       : Blattellidae

Genus       : Blattella

Spesies     : Blattella germanica

Siklus Hidup Kecoa German

Kecoa adalah serangga dengan metamorfosis tidak sempurna, hanya melalui tiga stadia (tingkatan), yaitu stadium telur, stadium nimfa dan stadium dewasa  yang dapat dibedakan jenis jantan dan betinanya. Bentuk nimfa biasanya menyerupai  kecoa dewasa, kecuali ukurannya, sedangkan sayap dan alat genitalnya dalam taraf perkembangan. Telur kecoa berada dalam kelompok yang diliputi oleh selaput keras yang menutupi telur kecoa tersebut yang dikenal sebagai kapsul telur  atau “Ootheca”. Kapsul telur dihasilkan oleh kecoa betina dan diletakkan pada tempat tersembunyi atau pada sudut-sudut dan pemukaan sekatan kayu hingga menetas dalam waktu tertentu yang dikenal sebagai masa inkubasi kapsul telur. Terdapat ciri khas pada kecoa german yaitu ootheca selalu dibawa oleh kecoa betina kemana pun kecoa tersebut pergi, sehingga persebarannya bisa sangat luas.

Untitled.jpg

Sumber: Repository Poltekkes Tanjungkarang

Jumlah telur maupun masa inkubasi tiap kapsul  telur berbeda menurut spesiesnya. Kecoa german betina dapat menghasilkan 30-40 telur dalam 1 ootheca. Dari kapsul telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi nimfa yang  hidup bebas dan bergerak aktif. Nimfa yang baru keluar dari kapsul telur berwarna putih seperti butiran beras, kemudian berangsur-angsur berubah menjadi berwarna coklat. Nimfa tersebut berkembang melalui sederetan instar dengan beberapa kali berganti kutikula sehingga mencapai stadium dewasa.

Perilaku Makan Kecoa German

Kepadatan kecoa dipengaruhi oleh adanya ketersediaan makanan. Habitat yang disukai kecoa adalah tempat yang banyak terdapat bahan organik seperti makanan, kertas, tekstil, wool dan bahan berlemak. Kecoa membutuhkan nutrisi untuk bertahan hidup dan berkembangbiak seperti karbohidrat, protein dan lemak. Kecoa lebih tertarik dengan makanan yang mengandung karbohidrat dibandingkan dengan lemak dan protein. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lauprasert et al. kecoa jerman jantan lebih menyukai pisang dan kentang, sedangkan kecoa betina lebih menyukai pisang. Kecoa lebih menyukai pisang dan kentang karena mereka kaya akan karbohidrat. Kandungan karbohidrat bisa menjadi sumber energi utama. Selain faktor gizi, bau dan tekstur makanan juga penting. Kecoa sering berhubungan dengan bau makanan dalam jarak pendek. Selain itu, bau pisang lebih kuat dari pada yang lain, terlebih lagi, tekstur pisang lembut dan lembab. Dengan demikian, pisang menarik bagi kecoa german.

Kecoa german termasuk ke dalam hewan nokturnal (aktif di malam hari). Puncak waktu pencarian makan terjadi pada pukul 18.00-22.00 dan puncak kedua terjadi pada pukul 04.00-05.00 pagi. Untuk puncak pertama, kecoa meninggalkan tempat tinggal mereka dan mencari makan tidak jauh dari resting site mereka. Di puncak kedua, kegiatan mencari makan mereka lebih jauh jika dibandingkan dengan puncak pertama. Setiap kecoa menunjukkan pola perilaku makan yang sama. Pertama, kecoa meninggalkan tempat berlindung dan mengayunkan antenanya untuk mendeteksi makanan menggunakan reseptor yang terletak di antena. Kedua, ia berjalan ke makanan dan menyentuhnya. Akhirnya, kecoa memakan makanan dengan sedikit air menggunakan bagian mulutnya.

Upaya Pengendalian Kecoa German

Cara pengendalian hama kecoa dapat dilakukan melalui beberapa cara baik upaya pencegahan sebelum munculnya hama kecoa, terkait sanitasi lingkungan, ataupun penutupan tempat resting site hama tersebut. Berikut merupakan beberapa cara pengendalian hama kecoa:

  a.      Pencegahan

Cara ini dapat diterapkan dengan melakukan pemeriksaan secara teliti terhadap barang-barang atau  bahan makanan yang akan disimpan, serta menutup semua celah-celah, lobang atau tempat-tempat tersembunyi yang bisa menjadi  tempat hidup kecoa dalam dapur, kamar mandi, pintu dan jendela, serta menutup atau memodifikasi instalasi pipa sanitasi. 

b.     Sanitasi Lingkungan

Cara yang kedua ini termasuk memusnahkan makanan dan tempat tinggal kecoa antara lain, membersihkan remah-remah atau sisa-sisa makanan di lantai atau rak, segera mencuci peralatan makan setelah dipakai, membersihkan secara rutin tempat-tempat yang menjadi persembunyian kecoa seperti tempat sampah, di bawah kulkas, kompor, furniture, dan tempat  tersembunyi lainnya. Jalan masuk dan tempat hidup kecoa harus ditutup, dengan  cara memperbaiki pipa yang bocor, membersihkan saluran air (drainase), bak cuci piring dan wastafel. Pemusnahan tempat hidup kecoa dapat dilakukan juga dengan membersihkan lemari pakaian atau tempat penyimpanan kain, tidak menggantung atau segera mencuci pakaian kotor dan kain lap kotor.

c.     Menggunakan insektisida alami

Contohnya menggunakan serbuk biji lada hitam atau daun jeruk purut

d.     Menggunakan jasa Pest Control

Upaya pengendalian hama dengan melakukan treatment, misalnya dengan metode baiting gel ataupun spraying yang dilakukan oleh Professional Pest Control Operator.

Sumber :  

  1. Amin I, Hestiningsih R, Yuliawati S. 2016. Pengujian Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix) sebagai Zat Penolak Alami bagi Kecoa Jerman (Blatella germanica) Dewasa di Laboratorium. Jurnal Kesehatan Masyarakat.4(1): 127-133  

  2. Cahyani LK, Yuliawati S, Martini. 2018. Gambaran Faktor-Faktor yang Terkait dengan Kepadatan Kecoa di Tempat Penjualan Bahan Pangan  dan Makanan Pasar Tradisional Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 6(5): 295-301  

  3. Fadila, Aulia. 2019. Efektivitas Serbuk Biji Lada Hitam (Piper nigrum) sebagai Insektisida Nabati terhadap Kecoa Rumah (Periplenata americana). [Repository Poltekkes Tanjungkarang]

  4. Kusumaningrum B, Ginandjar P, Yuliawati S. 2018. Hubungan Sanitasi TPM terhadap Kepadatan Kecoa di Pelabuhan Pemenang  KKP Kelas II Mataram. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 6(4): 151-156

  5. Lauprasert P, Sitthicharoenchai D, Thirakupt K, Pradatsudarasar. 2006. Food Preference and Feeding Behavior of The German Cockroach, Blattella germanica (Linnaeus). J. Sci. Res. Chula. Univ. 31(2): 121-126

Blattella.png

Download .pdf

Posted in Pest Control