A A G
Contact Us

KOBRA JAWA (Naja sputatrix)

Taksonomi Kobra Jawa

Ular merupakan reptil yang mudah dikenali (tidak memiliki kaki seperti reptil lainnya) dan diklasifikasikan ke dalam ordo squamata. Di Indonesia terdapat sekitar 400 jenis ular, 110 jenis atau sekitar 30% ditemukan ular yang berbisa. Kebanyakan, ular berbisa hidup di laut dan hanya 35 jenis yang hidup di darat. Naja sputatrix memiliki nama lokal kobra jawa dan penyebaran ular tersebut terdapat di daerah Pulau Jawa. Naja sputatrix merupakan reptil yang termasuk ke dalam golongan Apendiks II. Apendiks II adalah daftar spesies yang tidak mengalami kepunahan, tetapi dapat terancam punah apabila perdagangan terus dilakukan tanpa adanya pengaturan.

berita_kobra1.jpg

Gambar 1. Ular Kobra Jawa

Taksonomi :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Sub Filum : Vertebrata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Famili : Elapidae

Genus : Naja

Spesies : Naja sputatrix

Morfologi Kobra Jawa

Secara morfologi, ular kobra memiliki kepala berbentuk oval dan sedikit lebih besar dengan bagian leher, biasanya terdapat warna putih di sekitar leher.  Kobra jawa biasanya berwarna hitam kecoklatan. Ukuran panjang tubuh kobra jawa dapat mencapai 2m. Bagian moncong ular tersebut  tumpul dan berwarna keputihan. Selain itu, kobra jawa memiliki bentuk gigi taring yang kecil dengan ujung taring yang pendek. Naja sputatrix termasuk ular yang berbisa. Bisa dari kobra jawa berupa neurotoksin  yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Naja sputatrix memiliki bentuk taring proteroglypha (bertaring depan). Ketika menggigit mangsanya, ular jenis ini akan menyuntikkan bisa melalui taringnya, kemudian bisa tersebut akan masuk ke dalam pembuluh darah lawannya.

morfologi.jpg

Gambar 2. Morfologi Kobra Jawa

Dalam kondisi terancam, ular kobra akan mengembangkan leher dan menegakkan badannya, kemudian siap menyemprotkan bisa kepada lawannya. Kobra jawa mampu menyemburkan bisa terhadap lawannya sejauh 1m. Ular berbisa tinggi memiliki ciri-ciri yaitu adanya perbedaan bentuk antara kepala dan leher, kepala lebar dengan tudung memanjang, serta moncong yang membulat. Warna tubuh dorsal abu-abu kehitaman atau abu-abu kecoklatan dan bagian ventral berwarna putih kekuningan.

Habitat Kobra Jawa

habitat.jpg

Gambar 3. Kondisi Habitat Kobra Jawa

Kobra jawa termasuk jenis ular teresterial (hidup diatas tanah. Keberadaan ular di suatu tempat dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dan kondisi habitat yang cocok untuk ular dapat menetap di suatu tempat. Saat ular kobra menemukan resting site hama tikus dan memangsanya, maka lubang atau area tersebut dapat dijadikan tempat untuk bersarang bagi ular kobra. Lubang tersebut digunakan oleh induk kobra untuk bertelur dan menjaganya sampai menetas. Ular termasuk hewan ektoterm atau tidak mampu mengatur suhu tubuhnya. Ular membutuhkan panas untuk tubuhnya, hal ini dilakukan dengan cara berjemur dan bergerak jika suhu lingkungannya lebih rendah dari suhu optimal tubuh (25-27 derajat C). Sebaliknya, jika suhu lingkungan lebih tinggi dari suhu optimal tubuh, maka ular akan merespon dengan cara  menjauhi panas (perilaku diam dan berteduh).

Perilaku Bergerak

jacob.gif

Gambar 4. Letak Jacobson's Organ

Ular biasanya melakukan gerakan melata untuk mendekati mangsa dan biasanya diikuti dengan menjulurkan lidahnya. Tubuhnya bergerak membentuk lengkungan dan gerakan maju. Lidah ular berbentuk garpu dan mampu merasakan getaran udara untuk menangkap partikel-partikel kecil disekitarnya, kemudian menyimpannya ke dalam bagian khusus pada atap mulutnya yang dinamakan Jacobson’s organ. Oleh karena itu, ular dapat mengetahui keberadaan mangsa nya sejauh 100m. Sehingga dengan mekanisme ini mereka dapat mengetahui keberadaan mangsanya dengan tepat.

Perilaku Makan

makan.jpg

Gambar 5. Perilaku Makan Ular

Perilaku makan dimulai dengan perilaku menggigit lalu menelan mangsa yang biasanya dilakukan saat sore atau malam hari. Biasanya ular kobra dapat memangsa jenis ular yang berukuran besar seperti phyton, kemudian ular tikus, reptil lain seperti biawak dan juga memangsa hama tikus. Ular kobra membunuh mangsanya dengan cara menggigit yang bertujuan untuk menyuntikkan bisa ke dalam tubuh mangsanya. Perilaku minum ular kobra dilakukan untuk beradaptasi dengan suhu lingkungan yang tinggi serta membantu mekanisme ganti kulit, biasanya dilakukan saat siang hari 11.00-13.00

Perilaku Pertahanan

semburan.jpg

Gambar 6. Ular Kobra dapat Menyemburkan Bisa

Ular akan melakukan pertahanan tubuh saat ada ancaman dari manusia atau pun hewan lain. Perilaku ini ditunjukkan dengan kepala berdiri tegak, dengan tudung melebar dan suara mendesis kuat, serta ular kobra dapat menyemburkan bisa ke arah lawannya. Perilaku menyemburkan bisa tidak bertujuan untuk membunuh namun hanya untuk pertahanan semata. Jika bisa tersebut mengenai mata, maka dapat menimbulkan kebutaan sementara, tetapi dapat hilang jika segera dicuci dengan air bersih.

Perilaku Kawin

kawin.jpg

Gambar 7. Perilaku Kawin

Perilaku kawin ular kobra diawali dengan perilaku ular betina meninggalkan feromon (sinyal kimiawi) untuk ular jantan, setelah itu ular jantan akan menarik perhatian lawan jenis, biasanya perilaku ini ditandai dengan adanya “tarian” dari ular jantan, ular jantan yang memenangkan tarian tersebut akan menempelkan tubuhnya pada ular betina yang akan menjadi pasangannya dan ular jantan akan menjulurkan lidahnya. Kemudian, ular jantan dan betina saling melilitkan tubuh nya satu sama lain. Setelah itu, ular jantan melakukan penetrasi dengan memasukan hemipenis ke dalam kloaka betina. Ular betina dapat menghasilkan telur 20-50 butir. Telur tersebut biasanya diletakan di dalam sarang yang tertutupi serasah dedaunan. Induk betina akan menjaga sarang tersebut hingga telur tersebut menetas dan ular betina sangat sensitif serta agresif pada periode tersebut. Biasanya ular kobra bertelur sekitar bulan April hingga Juli. Telur tersebut akan menetas setelah mengalami inkubasi selama 70-80 hari. Telur yang baru menetas tersebut biasanya menghasilkan ular dengan panjang tubuh kurang lebih 50 cm.

Ular Berbisa

Ular berbisa sebagian besar berasal dari 3 famili yaitu Hydrophidae (contoh: ular laut), Elapidae (contoh: ular kobra) dan Viperidae. Kata bisa didefinisikan sebagai cairan mengandung racun yang dihasilkan oleh hewan selama melakukan pertahanan diri dengan cara mengigit ataupun menyengat. Salah satu contoh bisa yang umum dikenal di kalangan masyarakat adalah bisa ular. Bisa ular merupakan senyawa kimiawi (gabungan protein, enzim dan polipeptida) yang diproduksi oleh kelenjar khusus dari spesies ular berbisa. Fungsi dari bisa tersebut digunakan untuk melumpuhkan mangsa dan mempertahankan diri. Bisa ular biasanya terletak di setiap sisi kepala bagian bawah dan di bagian belakang mata serta terbungkus selubung otot.

Tanda Adanya Gigitan Ular

Terdapat sepasang bekas luka pada permukaan kulit yang tergigit oleh ular. Adanya pembengkakan dan rasa nyeri disekitar bekas gigitan. Korban yang digigit ular biasanya merasa mual dan kesulitan dalam bernafas (terjadi di beberapa kasus). Selain itu, adanya peningkatan produksi air liur dan keringat yang disebabkan adanya pelepasan bradikinin oleh enzim yang terdapat dalam bisa ular ( L-arginine esterase). Gigitan yang dihasilkan oleh family Elapidae biasanya tidak menimbulkan nyeri yang hebat, tetapi bisa yang bersifat neurotoksin memberikan efek mengantuk, kelemahan otot dan kematian apabila tidak langsung diberikan penanganan yang tepat.

Penanganan Gigitan Ular

Gambar 8. Penanganan Gigitan Ular

  1. Mengurangi atau mencegah penyebaran racun dengan cara tetap tenang (tidak panik) dan melakukan imobilisasi (diikat menggunakan kayu/papan di sekitar area yang terdapat gigitan)
  2. Lepaskan aksesoris yang sedang digunakan, seperti cincin, gelang, jam agar tidak terjadi pembengkakan
  3. Tidak menghisap, menyayat ataupun membakar luka, karena dapat menimbulkan adanya infeksi
  4. Korban tidak diberikan makan atau minum
  5. Segera membawa korban ke rumah sakit terdekat
  6. Pentingnya mengetahui jenis ular yang menggigit korban, agar mendapatkan penanganan yang tepat. Misalnya, apakah ular tersebut termasuk jenis ular berbisa atau tidak. Jika ular tersebut mati, sebaiknya dibawa untuk memudahkan dalam melakukan identifikasi

SUMBER

  1. Cintia ND. 2018. Distribusi Infeksi Cacing pada Digestif Ular Piton (Python reticulatus) dan Ular Kobra (Naja sputatrix) di Malang  (Dimanfaatkan Sebagai Sumber Belajaran Biologi SMA). [Repository]. UMM: Malang (ID)
  2. https://cites.org/eng/app/appendices.php
  3. Marida W, Radhi M. Perilaku Satwa  Liar Pada Kelas Reptilia. 2019. [Artikel Ilmiah]. Univ Al Muslim: Aceh (ID)
  4. Niasari N, Latief A. 2003. Gigitan Ular Berbisa. Sari Pediatri. 5(3): 92-98
  5. Prihatini, Trisnaningsih, Muchdor, Rachman. 2007. Penyebaran Gumpalan dalam Pembuluh Darah (Disseminated Intravascular Coagulation) Akibat Racun Gigitan Ular. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory. 14(1): 37-41
  6. Reza F, Tjong DH, Novarino W. 2016. Karakteristik Morfologi Ular Familia Elapidae di Kampus Universitas Andalas Limau Manih  Padang. Journal of Sainstek. 8(2): 135-141
  7. Widhiantara IG, Rosiana IW. 2015. Perilaku Harian Ular Kobra (Naja sputatrix Boie) dalam Kandang Penangkaran. Jurnal Virgin. 1(2): 154-161

Cover.png

Download .pdf

Posted in Umum