A A G
Contact Us

BED BUG (Cimex sp.)

Taksonomi Bed Bug

Bed bug atau kutu busuk merupakan salah satu jenis serangga nokturnal yang termasuk ke dalam ordo Hemiptera dan famili Cimicidae. Bed bug muncul di Indonesia pada tahun 1970, kemudian memasuki tahun 2000 keberadaan serangga ini sudah jarang ditemukan. Kemunculan bed bug pada tahun 2007 di Amerika Serikat meyebabkan terjadinya outbreak di beberapa Negara. Hal ini menjadi salah satu permasalahan utama, terutama untuk area perhotelan, apartemen ataupun rumah sakit. Penyebaran serangga ini dapat terjadi karena adanya peningkatan mobilitas manusia yang memungkinkan terbawanya bed bug bersama koper, ransel ataupun kardus ke seluruh dunia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Potter mengenai The History of Bed Bug Management, awal keberadaan bed bug dimulai saat bed bugmenyerang kelelawar dan hidup sebagai parasit. Kemudian, bed bug tersebut mengenai manusia yang tinggal di dalam Gua di wilayah Mediterania. Saat manusia tersebut terus melakukan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, maka persebaran serangga tersebut semakin luas.

morfologi.jpg

Gambar 1. Kutu busuk (Bed Bug)

Taksonomi

Kingdom : Animalia

Filum         : Arthropoda

Kelas         : Insecta

Ordo          : Hemiptera

Famili        : Cimicidae

Genus        : Cimex

Spesies      : Cimex sp.

Morfologi

Adult_bed_bug,_Cimex_lectularius.jpg

Gambar 2. Morfologi Bed Bug

Bed bug termasuk serangga yang tidak memiliki sayap (sayap tidak berkembang). Bentuk tubuhnya oval dan pipih serta berwarna kecoklatan, tetapi setelah menghisap darah manusia, bentuknya menjadi bulat dan warna nya agak kemerahan. Tubuhnya tertutupi oleh rambut- rambut yang sangat tipis dan pendek dengan panjang tubuh berkisar antara 5-7mm.Bed bug memiliki kurang lebih 9 segmen pada bagian abdomennya (perut). Terdapat ciri khas dari family Cimicidae, yaitu memiliki bau yang tidak sedap (bau busuk). Organ tubuh yang digunakan untuk menghisap darah mamalia dinamakan proboscis. Saat bed bug menghisap darah, proboscis akan menjulur ke depan yang digunakan untuk menusuk dan menghisap.

Habitat

habitat.jpg

Gambar 3. Habitat Bed Bug

Bed bug dapat ditemukan di berbagai lokasi di perkotaan, seperti di area hotel, apartemen, rumah sakit, rumah tinggal, asrama ataupun di dalam rumah kos. Serangga tersebut dapat bersembunyi di dalam celah yang sempit seperti di dalam tempat tidur, perabotan kayu, lantai, serta dinding pada siang hari dan muncul di malam hari untuk mencari makanan. Cimex sp. menyukai tempat tinggal yang  lembab, dingin serta gelap, seperti diantaranya pakaian-pakaian, kasur dan tempat tidur. Serangga tersebut tidak dapat bertahan hidup dalam panas matahari langsung dan jika terkena sinar matahari langsung akan melemah dan akhirnya mati. Terdapat penelitian yang dilakukan oleh Didik dan Fuad terkait keberadaan Cimex sp. di dalam rumah warga, di Kota Sragen, Berdasarkan hasil penelitiannya, ditemukan bahwa Cimex sp. terdapat di dalam celah perkakas kayu dan bamboo, adanya retakan pada bambu sangat disukai bed bug untuk bersarang dan berkembangbiak (tempat untuk meletakan terlur nya). Bila sudah menetap kutu busuk ini sulit untuk ditemukan, karena serangga tersebut sangat tersembunyi. Contoh area yang dijadikan tempat persembunyian bed bug yaitu  lipatan kasur, karpet, laci, kursi,sofa lemari, gorden dan hampir semua bagian ruangan dapat dijadikan tempat persembunyian bed bug. Serangga ini dapat berpindah dengan mudah dari satu tempat ke tempat lainnya kurang lebih 6-30 meter (bisa juga karena terbawa di dalam koper). Bed bug dapat bertahan hidup tanpa makanan selama 4 bulan sampai menemukan darah mamalia untuk dihisap.

Siklus Hidup

siklus.jpg

Gambar 4. Siklus Hidup Bed Bug

Kutu busuk merupakan serangga yang memiliki metamorfosis tidak sempurna, karena hanya mengalami tahapan telur, nimfa dan dewasa. Kutu betina memerlukan makanan yang cukup untuk bertelur dengan cara menghisap darah mamalia. Seekor betina mampu menghasilkan telur sebanyak 150-200 butir selama masa hidupnya. Selama musim bertelur yang berkisar 2-10 bulan, kutu betina dapat menghasilkan 2-5 butir telur setiap hari nya. Telur tersebut diletakan pada celah-celah sempit seperti celah pada tembok, celah pada tempat tidur dan kasur. Ukuran dari telur tersebut kurang lebih 1mm, berwarna broken white dan memiliki operculum(pelindung bagian luar). Setelah 6-10 hari, telur tersebut menetas dan menjadi nimfa yang berukuran sangat kecil dan morfologinya seperti kutu dewasa. Sebelum menjadi kutu dewasa, nimfa harus mengalami pergantian kulit yang dilakukan kurang lebih sebanyak 5-6 kali. Pada kondisi yang sesuai, fase dewasa dapat dicapai dalam kurun waktu 8-13 minggu setelah telur menetas. Kutu dewasa dapat hidup selama 6-12 bulan.

Inspeksi Bed Bug

inspeksi.jpg

Gambar 5. Inspeksi Bed Bug

Gigitan yang disebabkan oleh bed bug dapat menyebabkan reaksi alergi. Walaupun bed bug tidak dikenal sebagai serangga yang dapat menyebabkan penyakit berbahaya, tetapi adanya serangga tersebut sangat berpengaruh bagi industri perhotelan. Misalnya, adanya komplain dari customer dapat menurunkan nilai jual perusahaan dan bisa berakibat fatal, apabila customer meminta gantu rugi yang berujung pada tuntutan hukum. Sehingga, diperlukan adanya perhatian khusus terhadap keberadaan hama kutu busuk. Berikut merupakan langkah-langkah yang dapat digunakan dalam melakukan inspeksi keberadaan kutu busuk terutama di area kamar hotel.  

1.    Deteksi awal dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya noda darah pada permukaan sprei dan kasur

2.   Inspeksi difokuskan terlebih dahulu terutama di area lipatan kasur, celah tempat tidur, lipatan bantal,guling dan bed cover

3.   Selanjutnya pengecekan dilakukan di area karpet dan furniture. Apabila di area tersebut pernah ditemukan adanya bed bug, bisa dibuat pemantauan pasif dengan cara memasang ClimbUp Interceptors misalnya di bagian bawah tempat tidur

4.   ClimbUp Interceptors merupakan trap untuk memonitor keberadaan kutu busuk. Trap tersebut dapat dibuat secara manual menggunakan bahan talcum powder (bedak tabur).

5.  Pengecekan  ClimbUp  Interceptors secara berkala untuk mengetahui seberapa banyak populasi kutu busuk di area tersebut

Pengendalian Bed Bug

gigitan-kutu-busuk.jpg

Gambar 6. Contoh Hasil Gigitan Bed Bug

Keberadaan bed bug banyak menimbulkan kerugian baik secara finansial ataupun kesehatan. Sebaiknya dilakukan tindakan pencegahan agar tidak diserang hama bed bug, misalnya saat membeli kasur ada baiknya dibersihkan terlebih dahulu kemudian dapat dijemur di bawah sinar matahari. Tetapi,saat serangan bed bug tidak dapat dihindari, kita dapat melakukan beberapa langkah pengendalian hama untuk bed bug. Pengendalian hama dapat dilakukan secara individu atapun menggunakan jasa pest control (AAG Pest Control). Berikut merupakan langkah-langkah pengendalian hama yang dapat dilakukan.  

1.   Melakukan pembersihan di area-area yang pernah ditemukan adanya kutu busuk menggunakan uap panas. Karena kutu busuk sangat rentan dengan suhu yang panas.

2.   Apabila ditemukan adanya furniture atau barang- barang yang terkena kutu busuk, maka barang tersebut harus langsung dibersihkan dan tidak memindahkan barang ke luar dari area tersebut

3.   Kutu busuk yang di dapatkan dimasukan ke dalam plasik dan ditutup secara rapat, kemudian kutu busuk yang masih hidup dapat disiram menggunakan air mendidih.

4.   Tidak memindahkan barang yang belum dibersihkan ke dalam gudang

5.   Saat serangan kutu busuk sudah tidak terkendali, maka dapat menggunakan insektisida untuk mencegah adanya penyebaran secara meluas. Penggunaan insektisida ini harus dilakukan oleh Professional Pest Control Operator

Sumber

  1. Ahmad I. 2016. Fakta Tentang Kutu Busuk (Bed Bugs), Cimex hemipterus (Hemiptera: Cimicidae) dan Cara Pengendaliannya. [Artikel Ilmiah]. ITB: Bandung (ID)
  2. Didik S, Fuad A. 2010. Survei Keberadaan Serangga Cimex  sp.  pada Lingkungan Rumah Tangga Dikaitkan dengan Kadar Hemoglobin  Penghuni Rumah di Desa Gebang Sukodono Sragen. [Prosiding]. UMS: Semarang (ID)
  3. Hadi UK. 2010. Gerakan Hidup Sehat, Membangun Jiwa Insan Asrama dan Lingkungan yang Sehat. [Artikel Ilmiah]. IPB: Bogor (ID)
  4. Hwang SW, Svoboda TJ, Jong JD, Kabasele KJ, Gogosis E. 2005. Bed Bug Infestations in an Urban Environment. Emerging Infectious Diseases. 11(4): 533-537
  5. Potter M. 2011. The History of Bed Bug Management with Lessons from the Past. American Entemologist. 57(1): 14-25
  6. Romero A, Potter M, Potter D, Haynes KF. 2007. Insecticide Resistance in the Bed Bug: A Factor in the Pest’s Sudden Resurgence. Journal Of Medical Entomology. 44(2): 175-178
  7. Wiseso J. 2017. Pengendalian Kutu Kasur di Grand Setiabudi Hotel Bandung. [Repository]. STPB- Bandung (ID)  

 

COVER BED BUG.png

Download .pdf

Posted in Pest Control